Kita harus berpikir kembali bagaimana langkah berikutnya, juga termasuk kemungkinan juga lewat jalur hukum. Karena kalau saya lihat tentunya viral, saya dihujat-hujat, bukan cuman saya tapi keluarga saya yang mana dihujat. Dan sampai saat ini tak ada inf

Jakarta – Direktur Utama PT Pembiayaan Digital Indonesia (AdaKami) Bernardino Moningka Vega menyampaikan bahwa pihaknya membuka opsi untuk menempuh jalur hukum apabila kasus dugaan nasabah AdaKami yang digunakan bunuh diri terbukti sebagai hoaks.

“Kita harus berpikir kembali bagaimana langkah berikutnya, kemudian termasuk kemungkinan juga lewat jalur hukum. Karena kalau saya lihat tentunya viral, saya dihujat-hujat, bukan cuman saya tapi keluarga saya yang dimaksud dihujat. Dan sampai saat ini tak ada informasi tambahan terhadap tuduhan itu,” kata Bernardino dalam konferensi pers di tempat Jakarta, Jumat.

Kemungkinan jalur hukum akan diarahkan kepada pihak yang mana menyebarluaskan kabar dugaan salah satu nasabah AdaKami berinisial “K” yang digunakan bunuh diri.

"Kalau ada bukti silakan diberi ke kita. Tapi kalau orang menuduh, masa kita duduk diam," ujarnya

Hingga saat ini, belum ada informasi tambahan atas benar atau tidaknya dugaan tersebut. AdaKami telah lama bekerja serupa dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) beserta pihak kepolisian untuk melakukan investigasi tambahan lanjut. Namun, proses investigasi belum berlangsung dengan baik lantaran keterbatasan informasi yang digunakan ada mengenai pengguna.

Adapun informasi yang mana beredar melalui aplikasi sosial media X (sebelumnya Twitter) berdasarkan unggahan akun @rakyatvsoinjol yang tersebut menerangkan bahwa korban berinisial K, berjenis kelamin pria, sudah berkeluarga miliki anak berumur 3 tahun juga mengakhiri hidupnya pada Mei 2024

Bernardino mengklaim pihaknya sudah menghubungi akun yang menyebarluaskan kabar ramai itu untuk memohon data tambahan atas dugaan kasus bunuh diri tersebut, namun sampai saat ini belum mendapat respons.

“Kita juga sudah reach out akun merebak itu untuk, tolong kalau ada data tambahan seperti nama, KTP, nomor user, nomor telepon, tolong di-share ke kita dan juga kita akan investigasi sesuai petunjuk dari OJK,” kata Bernardino.

Pada kesempatan yang mana sama, Sekretaris Jenderal Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) Sunu Widyatmoko menambahkan, pihaknya selalu melakukan pengawasan terhadap semua anggotanya, termasuk AdaKami sebagai sistem fintech peer to peer lending (p2p lending) agar tetap mematuhi regulasi serta code of conduct yang mana berlaku.

“Kami berharap permasalahan ini dapat dituntaskan juga menentukan pihak yang digunakan bersalah sehingga tak semata-mata didasarkan pada asumsi seperti saat ini,” kata Sunu.

Sebelumnya, OJK sudah pernah memerintahkan AdaKami untuk segera melakukan investigasi secara mendalam untuk menjamin kebenaran berita adanya nasabah bunuh diri yang digunakan viral.

Kepala Departemen Literasi, Inklusi Keuangan serta Komunikasi OJK Aman Santosa mengatakan OJK memerintahkan AdaKami untuk membuka kanal pengaduan bagi warga yang digunakan memiliki informasi mengenai korban bunuh diri, yang mana AdaKami agar melaporkan penanganan pengaduan yang kepada OJK.

Dari pemanggilan tersebut, Aman mengatakan pihak AdaKami telah lama melakukan investigasi awal untuk mencari debitur berinisial “K” yang marak diberitakan, namun belum menemukan debitur yang mana sesuai dengan informasi yang tersebut beredar.

 

Share: