Jakarta – Sebuah artikel terkait prediksi perang nuklir pada Eropa muncul pada situs aliansi pertahanan NATO, Rabu (4/10/2024). Artikel yang digunakan ditulis oleh Gregory Weaver, yang digunakan menjabat sebagai penasihat utama pertahanan nuklir serta rudal di tempat tempat Kepala Staf Gabungan Amerika Serikat (AS).

Dalam artikel itu, Weaver berpendapat bahwa Rusia dapat menggunakan senjata nuklir taktis untuk mencegah kekalahan dalam medan perang Ukraina atau membawa kemenangan cepat dalam konflik konvensional.

“Dalam skenario seperti ini, kepemimpinan militer Rusia akan berasumsi bahwa negara-negara Barat tidaklah akan memberikan tanggapan yang sama, dikarenakan khawatir bahwa situasi hal itu akan meningkat secara tidaklah ada terkendali hingga terjadinya pertukaran tanah air besar-besaran antara AS kemudian Rusia,” ujarnya dalam situs itu.

Daripada takut terhadap perang nuklir, Weaver berpendapat bahwa negara-negara Barat harus menerimanya. NATO harus melengkapi jet tempur kemudian juga kapal selamnya dengan senjata nuklir taktis untuk mencegah serangan taktis Rusia, kemudian meyakinkan para pemimpin Rusia bahwa NATO sepenuhnya siap untuk melawan pemakaian nuklir terbatas.

Doktrin nuklir Rusia mengizinkan penyelenggaraan senjata atom jika terjadi serangan nuklir pertama terhadap wilayah atau infrastrukturnya, atau jika keberadaan negara Rusia terancam oleh senjata nuklir atau konvensional. Posisi ini tidaklah berubah sejak tahun 2010, lalu bukan ada terkecuali dalam pemanfaatan senjata nuklir taktis.

Terlepas dari pedoman yang tersebut mana jelas mengenai penyelenggaraan nuklir, Weaver mengklaim bahwa Rusia dapat melancarkan serangan terhadap negara-negara NATO dalam Eropa jika AS sibuk memerangi China atas Taiwan.

Namun Weaver bukan menyebutkan dampak perang nuklir terhadap negara-negara Eropa dalam mana konflik semacam itu menurutnya kemungkinan akan terjadi.

“Untuk mengatasi hal ini, NATO perlu memindahkan kemampuan serangan yang mana tambahan presisi ke Eropa, membentuk beberapa divisi lapis baja modern dalam negara-negara Baltik kemudian Eropa Timur, kemudian menekan anggota Eropa untuk memberikan kemampuan yang dimaksud lebih tinggi tinggi konvensional, sementara AS mengirimkan merekan itu senjata nuklir taktis.”

Retorika penyelenggaraan nuklir sendiri beberapa kali juga diucapkan oleh Mantan Presiden Rusia yang dimaksud yang disebut juga Wakil Sekretaris Dewan Keamanan, Dmitry Medvedev. Juli lalu, Medvedev menjelaskan bahwa Moskow harus menggunakan senjata nuklir jika serangan balasan Kyiv yang mana mana sedang berlangsung berhasil.

“Bayangkan jika.. ofensif, yang mana didukung oleh NATO, berhasil juga merek merobek sebagian tanah kami maka kami akan dipaksa untuk menggunakan senjata nuklir sesuai aturan keputusan dari presiden Rusia,” paparnya dikutip Reuters.

“Tidak akan ada pilihan lain. Jadi musuh kita harus berdoa untuk (kesuksesan) prajurit kita. Mereka melakukan konfirmasi bahwa api nuklir global tidaklah tersulut.”


Share:

Tinggalkan komentar