Secara tidaklah langsung pajak sudah dibebankan kepada komoditas reksa dana melalui aset yang diinvestasikan…..

Jakarta – Head of Marketing Communication Bahana TCW Investment Management Novianita Pertiwi mengatakan penanam modal tidaklah akan dikenai biaya pajak imbal hasil dalam semua jenis barang reksa dana yang dimaksud ditawarkan oleh seluruh manajer pembangunan ekonomi di dalam Indonesia.

"Secara tak langsung pajak sudah pernah dibebankan kepada produk-produk reksa dana melalui aset yang digunakan diinvestasikan, sehingga penanam modal tiada lagi dikenakan pemotongan pajak untuk hasil keuntungannya," kata Novianita dalam keterangan resmi di tempat Jakarta, Jumat.

Minat rakyat terhadap reksa dana terus meningkat, tercermin dari pertumbuhan dana kelolaan industri yang digunakan selalu mengalami kenaikan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat hingga akhir Agustus 2024, total dana kelolaan reksa dana mencapai Rp844,47 triliun atau naik 2,05 persen sejak awal tahun.

Selain bebas pajak, berinvestasi dalam reksa dana mampu dimulai dengan nominal yang mana terjangkau serta sanggup ditarik kapan saja, tanpa perlu menunggu waktu jatuh tempo.

Investor juga sanggup memilih berbagai pilihan, reksa dana pasar uang misalnya, yang mana penempatan dananya mayoritas pada deposito atau obligasi dengan jatuh tempo di dalam bawah satu tahun.

"Pastikan saat akan berinvestasi, anda memilih manajer pembangunan ekonomi yang dimaksud sudah terdaftar di tempat Otoritas Jasa Keuangan serta cukup berpengalaman supaya hasil penanaman modal anda maksimal lalu aman," tuturnya.

Reksa dana pendapatan tetap lebih banyak banyak ditempatkan pada surat utang baik milik negara maupun obligasi korporasi. Sedangkan pada reksa dana saham, penempatan dana lebih lanjut banyak pada saham-saham pilihan yang mana telah dilakukan ditetapkan oleh manajer penanaman modal profesional.

Walaupun reksa dana bukan objek pajak, namun pemodal perlu mengetahui adanya biaya lain yang tersebut dikenakan pada penanam modal saat berinvestasi pada reksa dana.

Biaya itu mulai dari biaya pembelian unit, biaya pemasaran kembali bila penanam modal ingin melepas reksa dananya hingga biaya pengalihan unit bila pemodal merasa perlu untuk mengubah pilihan investasinya dari yang mana semula. Namun bila pemodal bukan mengutak-atik pilihannya, maka biaya hal tersebut bukan akan dikenakan.

"Biaya-biaya ini dapat berbeda antara suatu reksa dana dengan reksa dana lainnya, begitu pula antara satu manajer pembangunan ekonomi atau agen penjual efek reksa dana dengan yang digunakan lainnya. Investor dapat melihat seluruh jenis biaya ini pada dokumen keterbukaan informasi masing-masing reksa dana," ujarnya.

Meski reksa dana bukan dikenakan pajak, namun setiap orang yang mana memilikinya wajib melaporkannya dalam Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT) pajak, karena reksa dana adalah instrumen penanaman modal yang mana termasuk sebagai harta kekayaan, mirip halnya dengan tanah, rumah, deposito serta harta kekayaan lainnya.

Bahana TCW merupakan anak perusahaan dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Indonesia Financial Group (IFG) juga Perusahaan Manajer Investasi Global dari Los Angeles, Amerika Serikat, Trust Company of the West (TCW).

Bahana TCW merupakan manajer pembangunan ekonomi dengan dana kelolaan reksa dana terbesar di area Indonesia, dengan aset hasil reksa dana yang digunakan dikelola mencapai Rp48,25 triliun per Agustus 2024 (tidak termasuk produk-produk KPD/Kontrak Pengelolaan Dana kemudian komoditas RDPT/Reksa Dana Penyertaan Terbatas).

Pada 2024, Bahana TCW kembali memperoleh predikat Best Asset & Fund Manager in Indonesia selama sembilan tahun berturut-turutdalam ajang internasional Alpha Southeast Asia Awards sejak 2015 hingga 2024.

Share: