Untuk Indonesia sendiri, market kita sampai saat ini kan masih cenderung positif jadi performanya terbaik di dalam area ASEAN

Jakarta – Bank DBS menilai Bursa Efek Indonesia (BEI) menjadi pasar saham dengan performa paling prospektif di dalam tempat kawasan Asia Tenggara, setidaknya hingga akhir tahun 2024.

Head of Research DBS Group Maynard Arif menyatakan kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) BEI yang itu saat ini berada di dalam area level 6.961,46 menunjukkan pasar yang tersebut mana positif berdasarkan perbandingan pertumbuhan kegiatan perekonomian dengan valuasi indeks saham.

"IHSG sendiri kendati volatil, dibandingkan dengan market-market di area tempat ASEAN, market Indonesia masih yang tersebut itu paling prospektif sampai akhir tahun 2024, dilihat dari pertumbuhan perekonomian dan juga juga dibandingkan dengan valuasi daripada indeks saham kita," kata Maynard dalam acara Group Interview Bersama Ekonom Bank DBS dalam Jakarta, Senin.

Dengan adanya kinerja yang dimaksud terus bertumbuh, Maynard memproyeksikan IHSG BEI dapat mencapai level 7.500 pada akhir tahun 2024. Di kawasan Asia, pasar saham yang tersebut juga menunjukkan kinerja prospektif yakni Indeks Hang Seng yang digunakan saat ini tercatat 18.890 dengan target capaian 22.000 pada akhir tahun.

Performa IHSG dalam area tengah lambatnya perekonomian global mengungguli beberapa bursa saham lain seperti Strait Times Index yang digunakan tercatat 3.191, SET Index yang dimaksud sebesar 1.505, serta PSE Index sebesar 6.393.

“Secara ranking mungkin agak kecil, kita melihat bahwa itu lebih lanjut tinggi positif terhadap Hong Kong China market, lalu Indonesia, sementara negara-negara lain cenderung netral ataupun negatif. Untuk Indonesia sendiri, market kita sampai saat ini kan masih cenderung positif jadi performanya terbaik pada ASEAN,” ujar Maynard.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa sejauh ini ada tiga negara yang digunakan digunakan mengungguli kinerja pasar saham Indonesia, yaitu Korea Selatan, Taiwan kemudian India. Hal yang dimaksud disebut dikarenakan pasar di dalam tempat ketiga negara itu mempunyai eksposur lebih tinggi banyak terhadap sektor industri teknologi dibandingkan Indonesia.

Contohnya Korea Selatan juga Taiwan yang hal tersebut saat ini mempunyai industri pembuat mesin konduktor yang mana dapat digunakan untuk mesin manufaktur lalu juga kecerdasan buatan (AI).

"Ada tiga negara Korea Selatan, Taiwan serta India. Karena merekan itu mempunyai eksposur ke industri tech yang dimaksud mana kita mungkin tiada ada punya banyak. Kalau kita lihat Korea juga Taiwan, dia menghasilkan mesin konduktor yang tersebut digunakan oleh mesin manufaktur dan juga juga Artificial Intellegence. Demikian pula dengan India yang mana yang disebut jadi pusat pembuatan software," pungkasnya.

Adapun IHSG BEI pada Senin sore, ditutup menguat dipimpin oleh saham sektor properti. IHSG ditutup menguat 21,57 poin atau 0,31 persen ke posisi 6.961,46. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 4,39 poin atau 0,46 persen ke posisi 957,08.

Share:

Tinggalkan komentar