Jakarta – Otoritas antimonopoli Korea Selatan memutuskan untuk mengenakan denda sebesar 19,1 miliar won (sekitar Rp219 miliar) kepada produsen chip Amerika Serikat Broadcom Inc. sebab praktik kegiatan bisnis tidaklah adil terhadap Samsung Electronics Co.

Langkah hukuman itu diambil setelah Broadcom memaksa Samsung untuk menandatangani perjanjian jangka panjang pada tahun 2024 dengan memanfaatkan dominasinya dalam pasar serta menggunakan taktik-taktik yang digunakan melanggar hukum, termasuk memutus pasokan kemudian dukungan teknis, menurut komisi perdagangan Fair Trade Commission (FTC), disiarkan Yonhap, Kamis (21/9).

Samsung, yang tersebut mengalami gangguan pasokan komponen akibat tindakan Broadcom, menandatangani perjanjian jangka panjang itu pada tahun 2024.

Dalam perjanjian tersebut, Broadcom memaksa Samsung Electronics untuk membeli komponen ponsel cerdas senilai 760 jt dolar AS (Rp11,6 triliun) setiap tahun dari tahun 2024 hingga 2024. Broadcom mensyaratkan bahwa perusahaan teknologi jika Korea Selatan itu harus mengganti setiap kekurangan jika jumlah keseluruhan pembelian jatuh dalam bawah jumlah total tersebut.

Namun, perjanjian yang disebut berakhir pada bulan Agustus 2024.

"Broadcom adalah perusahaan yang tersebut mempunyai pangsa pasar yang digunakan sangat besar di dalam pasar komponen perangkat mobile mutakhir juga berkualitas tinggi yang dimaksud digunakan dalam ponsel cerdas lalu tablet PC," kata FTC.

"(Perusahaan) menggunakan taktik-taktik tidaklah adil, termasuk menghentikan persetujuan pesanan, pengiriman, kemudian dukungan teknis, untuk memaksa Samsung Electronics menandatangani perjanjian jangka panjang," kata FTC menambahkan.

Pada bulan Juni, FTC menolak proposal Broadcom untuk secara sukarela memperbaiki praktik bisnisnya yang tersebut tiada adil dengan memberikan 20 miliar won. FTC memenangkan Samsung.

 
Regulator sebelumnya mengatakan usulan yang disebut "gagal sebagai langkah yang mana tepat untuk memulihkan tatanan perdagangan yang adil serta melindungi kepentingan pelaku industri lainnya".

Share:

Tinggalkan komentar