Pembelian di toko  dibatasi maksimal 10 kg per hari. Pembatasan dikerjakan sejak awal September.

Berdasarkan pantauan CNNIndonesia.com, pembatasan salah satunya terjadi pada Super Indo Duren Tiga, Jakarta Selatan. Pada Senin (2/10), tampak jelas aturan yang tersebut digunakan menciptakan pembeli belaka mampu membawa pulang 2 kemasan beras berukuran 5 kg per harinya.

“Iya sekarang semua jenis beras lagi dibatasi pembeliannya, sekali transaksi cuma boleh bawa pulang 2 pcs ukuran 5 kg. Sudah dari awal September (2024) kemarin kalau tidaklah salah, semua Super Indo sebanding aturannya,” beber salah satu kru toko ritel tersebut.

“Dibatasi akibat kan stoknya sedikit, ada El Nino itu kan. Stoknya tipis sekarang, jadi dibatasi. Kalau sudah banyak lagi pasti tiada dibatasi,” sambungnya.

Pembatasan serupa juga terjadi pada tempat toko ritel lain, seperti Alfamart hingga Indomaret. Para petugas toko kompak mengatakan pembatasan ini berlaku sudah sejak satu hingga dua minggu belakangan.

Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey membenarkan pembatasan ini. Ia menyebut pembatasan dijalankan demi mengantispasi aksi panic buying yang terjadi akibat mahalnya nilai jual beras belakangan ini akibat imbas El Nino.

Akan tetapi, Roy berjanji pembatasan pembelian beras tak permanen. Peritel akan mencabut batas maksimal pembelian beras jika stok sudah melimpah, termasuk melalui pasokan dari impor.

“Ya, setelah impor tiba, pembatasan akan dicabut. Pembatasan ini sesuai arahan pemerintah untuk mencapai pemerataan. Rencananya, setelah impor 400 ribu ton, akan ditambah 1 jt ton pada awal 2024,” katanya saat dikonfirmasi.

Direktur Indonesia Development and Islamic Studies (IDEAS) Yusuf Wibisono menilai langkah ritel membatasi pembelian beras menunjukkan pasokan beras kian terbatas. Ia yakin akar permasalahan sengkarut beras tak berubah, yakni terbatasnya produksi domestik.

Hal itu menyebabkan Bulog tidaklah ada optimal menyerap beras dalam negeri untuk menjaga cadangan beras pemerintah (CBP).

Yusuf mendesak pemerintah serius mengatasi permasalahan ini. Terlebih, ia melihat nilai beras naik konsisten sejak Agustus 2022-Agustus 2024.

Menurutnya, kenaikan itu menjadi pertanda permasalahan struktural beras yang dimaksud dimaksud serius.

“Pola kenaikan nilai tukar beras dalam setahun terakhir ini mengkhawatirkan oleh sebab itu tiada terdapat tendensi nilai tukar turun meskipun pemerintah telah dilakukan lama mengimpor beras 500 ribu ton sejak akhir 2022,” katanya kepada CNNIndonesia.com.

Infografis - Harga Beras Kian MahalInfografis nilai tukar beras kian mahal. (CNN Indonesia/Astari Kusumawardhani).

“Kemudian kita melalui panen raya dari Maret 2024-Juni 2024 serta tak turun juga (harga beras) meskipun pemerintah di dalam dalam tahun ini sudah pernah menetapkan impor beras 2 jt ton kemudian cadangan beras Bulog sekarang sudah dalam kisaran 1,5 jt ton,” imbuh Yusuf.

Menurutnya, kenaikan tarif beras yang mana liar sanggup jadi merambat ke pangan lain. Terlebih masih ada ancaman El Nino.

Jika dibiarkan katanya, gejolak biaya jual pangan ini akan merembet ke inflasi Indonesia yang digunakan hal tersebut berpotensi terdorong ke kisaran 4 persen.

Bohong data pemerintah

Analis Kebijakan Pangan Syaiful Bahari mempertanyakan keabsahan data pemerintah perihal stok beras saat ini, termasuk hasil impor. Pasalnya, ia meyakini pembatasan pembelian beras di dalam tempat toko ritel jadi bukti kelangkaan.

Ia menyebut kelangkaan beras sudah terjadi sejak tahun lalu lantaran produksi nasional turun. Penurunan diperparah banyaknya gagal panen di area area awal 2024 ini.

Di tengah kegagalan itu katanya, solusi pemerintah cuma sekali impor juga juga impor.

Syaiful menyebut impor kali ini tak mudah oleh sebab itu para negara eksportir beras membatasi diri serta bahkan menangguhkan ekspor. Pada akhirnya, ketersediaan beras nasional di dalam area ujung tanduk dikarenakan defisitnya cukup serius.

Meskipun pemerintah mengklaim stok beras di tempat dalam Bulog ada 1,6 jt ton serta dalam perjalanan 400 ribu ton, Syaiful menilai jumlah total total hal itu tak akan menutupi kelangkaan beras pada pasar. Harga beras tak ada akan turun lantaran defisit kebutuhan nasional terlalu dalam.

“Kondisi ini terbukti dikarenakan pemerintah menetapkan kembali untuk impor 1 jt ton beras dalam dalam 2024 yang digunakan yang menandakan kondisi belum kembali normal di tempat area tahun depan. Pertanyaanya, jika sekarang terjadi pembatasan pembelian beras di tempat dalam ritel, benarkah stok beras impor yang digunakan dimaksud disampaikan pemerintah ada 2 jt ton? Jangan-jangan memang total agregat realisasi impor tiada sebesar yang dimaksud disampaikan,” tuturnya.

“Sampai sekarang India bukan ekspor berasnya, Vietnam juga Thailand cuma sekadar kasih sedikit. Terakhir mau impor dari China, itupun masih dipertanyakan,” imbuh Syaiful.

Curiga permainan swasta

Peneliti Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Eliza Mardian paham pembatasan beras dalam toko ritel demi mencegah panic buying. Namun, ia menaruh curiga pada swasta yang digunakan diduga bermain dalam suplai beras.

Eliza memohon pemerintah mengidentifikasi terlebih dahulu akar permasalahan lonjakan nilai jual hingga pembatasan ini guna mengetahui apakah hambatan itu terjadi lantaran produksi beras anjlok atau ternyata ada indikasi spekulasi.

Terlebih, ia mendengar ada kabar heboh aksi pembelian gabah dengan biaya tinggi oleh korporasi baru-baru ini.

“Hampir 90 persen suplai beras itu dikendalikan oleh swasta, termasuk dalam dalamnya rumah tangga petani, penggilingan kecil, juga penggilingan besar. Sayang, datanya itu tidaklah ada tersedia. Kurang lebih lanjut banyak semata-mata 10 persen hanya saja yang tersebut dimaksud dipegang Bulog, di tempat area mana datanya bisa jadi semata kita telusuri akibat di-update berkala,” jelas Eliza.

“Memang perlu dibuat dulu database suplai beras. Selama ini kita cuma tahu produksi gabah pada dalam berbagai wilayah, namun belum ada data beras yang dikendalikan swasta per wilayah. Ini yang tersebut semestinya diperbaiki dulu. Jika tiada ada basis data yang dimaksud digunakan akurat, sampai kapanpun persoalan beras ini akan terus berulang. Konsumen menjadi korban,” kritiknya.

Yusuf Wibisono juga mengambil bagian menyoroti titik ini. Menurutnya penurunan kapasitas produksi nasional diperburuk oleh kelemahan tata niaga beras.

Ia melihat ada perubahan besar dalam 5 tahun terakhir. Dalam perubahan ini, jalur distribusi kemudian pemasaran beras yang digunakan dulu dikuasai Bulog serta penggilingan kecil hingga menengah, saat ini didominasi penggilingan serta pabrik beras besar.

Ia yakin masuknya pemain besar ke jalur distribusi serta pemasaran beras mengubah pasar dalam hulu. Pada akhirnya, persaingan menguat dengan memperebutkan gabah kering panen (GKP) yang digunakan mana stoknya terbatas.

“Pemain besar yang mempunyai jalur pemasaran langsung ke ritel modern lalu cenderung memproduksi beras premium berani membeli GKP dalam tingkat nilai yang digunakan lebih tinggi lanjut tinggi dari penggilingan kecil hingga menengah. Jadi, nilai tukar beras sudah meningkat sejak dalam tingkat GKP sekaligus menjelaskan mengapa Bulog kesulitan menyerap beras domestik sebab tingkat harga jual jual GKP jarak berjauhan di dalam dalam atas biaya pembelian pemerintah (HPP),” bebernya.

 

Belajar serta juga Berguru dari China

BACA HALAMAN BERIKUTNYA


HALAMAN:
1 2

Share:

Tinggalkan komentar