naik tipis pada awal perdagangan Kamis (5/10) pagi.

Mengutip Reuters, nilai tukar minyak mentah berjangka Brent naik 11 sen ke US$85,92 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 7 sen menjadi US$84,29 per barel.

Harga minyak turun tambahan tinggi dari US$5 pada Rabu (4/10) dikarenakan prospek makroekonomi yang dimaksud suram juga kehancuran permintaan unsur bakar.

Namun, tekanan tertahan oleh hasil panel menteri OPEC+ yang dimaksud digunakan tiada ada melakukan perubahan terhadap kebijakan produksi minyak.

Apalagi saat bersamaan, Arab Saudi juga mengatakan akan melanjutkan kebijakan pemangkasan produksi sebesar 1 jt barel per hari (bpd) hingga akhir 2024 dan Rusia akan mempertahankan pembatasan ekspor minyak 300 ribu barel per hari hingga akhir bulan Desember.

Analis menyebut kebijakan itu akan memicu defisit pasokan minyak yang digunakan mana dapat mendongkrak harga.

“Kami terus melihat pasar mengalami defisit hingga kuartal keempat kemudian pelemahan biaya mengurangi kemungkinan OPEC akan mengurangi kendala pasokan,” kata analis National Australia Bank dalam sebuah catatan.

Tapi, pada saat bersamaan, tarif minyak juga mendapatkan beban dari kondisi perekonomian zona Eropa yang mana dimaksud diprediksi akan lesu pada kuartal terakhir tahun ini.

Kondisi hal itu diprediksi akan menyebabkan permintaan minyak seret sehingga harganya turun. 

Share:

Tinggalkan komentar