Didukung oleh ekspektasi kebijakan suku bunga yang mana hal tersebut tambahan banyak akomodatif pada 2024 juga valuasi pasar yang digunakan dimaksud menarik

Jakarta – Chief Economist & Investment Strategist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) Katarina Setiawan mengatakan pasar obligasi maupun pasar saham berpotensi tumbuh positif pada tahun Pemilihan Umum (Pemilu) 2024.

“Didukung oleh ekspektasi kebijakan suku bunga yang mana lebih lanjut besar akomodatif pada 2024 kemudian valuasi pasar yang digunakan menarik,” ujar Katarina dalam keterangannya pada Jakarta, Rabu.

Selain itu, menurut dia, umumnya penanam modal juga mengantisipasi fenomena window dressing pada akhir tahun yang digunakan digunakan dilanjutkan dengan January effect pada awal tahun berikutnya.

Ia menyarankan, sebaiknya pemodal untuk tetap berinvestasi secara regular lalu melakukan diversifikasi portofolio, yang mana mana disesuaikan dengan tujuan keuangan, jangka waktu lalu profil risiko masing- masing.

“Sehingga, diharapkan risiko keseluruhan portofolio terjaga, sementara hasil penyelenggaraan ekonomi semakin mendekati tujuan yang digunakan dimaksud dicanangkan,” ujar Katarina.

Katarina menjelaskan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tumbuh positif dalam tiga pemilihan umum terakhir, diantaranya pada 2009, 2014, lalu 2019 secara berurutan tumbuh 87,0 persen, 22,3 persen, serta 1,7 persen.

Sedangkan, lanjutnya, pasar obligasi terjaga baik, yang dimaksud hal tersebut didukung oleh imbal hasil riil yang dimaksud yang disebut menarik serta juga fundamental makroekonomi yang digunakan kuat.

Selain itu, jeda kenaikan suku bunga juga ekspektasi terbatasnya laju penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dapat memacu imbal hasil obligasi semakin menurun, yang tersebut mana akan berdampak positif terhadap kinerja pasar obligasi.

Seiring dengan itu, pasar Asia masih menawarkan iklim perkembangan ekonomi yang mana ideal bagi para investor, terlihat dari pertumbuhan sektor sektor ekonomi yang tersebut mana membaik, hitungan inflasi yang digunakan dimaksud mulai melandai, serta suku bunga kawasan yang mana diperkirakan sudah berada pada puncaknya.

Hal hal itu bertolak belakang dengan kondisi pada tempat negara- negara barat yang dimaksud menunjukkan perlambatan pertumbuhan lalu inflasi yang tersebut tinggi.

“Pemulihan kegiatan ekonomi China yang digunakan tidaklah ada terlalu positif membawa potensi keuntungan tersendiri bagi negara-negara lain dalam area kawasan Asia untuk mendapatkan aliran dana pemodal asing yang dimaksud dimaksud mencari prospek dalam luar China,” ujar Katarina.

Share:

Tinggalkan komentar