Pakar Ekonomi lalu Bisnis, Profesor Rhenald Kasali, menilai mega proyek transportasi warga di area area Indonesia tidaklah perlu balik modal. Menurutnya, pembangunan yang digunakan disebut miliki ragam keuntungan, termasuk branding daerah lalu pembagian merata pembangunan.

Dalam Sesi 3 Hub Talks bertajuk ‘Transformasi Transportasi Indonesia’ pada Hub Space 2024, Jumat (29/9), Rhenald mengatakan bahwa infrastruktur yang dimaksud dimaksud dibangun mempunyai manfaat yang dimaksud jarak terpencil lebih banyak banyak luas daripada yang terlihat pada area permukaan.

“Bicara mengenai transportasi, hampir semua berbeda pendapat. Masing-masing berpikir menurut disiplin ilmu masing-masing. Misalnya, ada yang mana mana mengatakan sampai kiamat pun kereta cepat nggak akan balik modal,” ujarnya seperti dikutip dari detikcom, Rabu (4/10).

Dia menyebutkan, menilik kasus dalam dalam Eropa, hampir semua proyek kereta cepat tidaklah balik modal. Salah satunya kereta pada Swiss yang mana hal tersebut setiap 3 menit sekali datang ke stasiun.

“Enggak ada penumpang tapi muter terus, bagus terus, dibagusin terus. Ketika saya baca-baca, itu subsidi semua. Jadi kalau sampai kiamat enggak balik modal, pasti kita enggak akan bangun itu. Karena rakyat transportasi umum memang harus subsidi,” jelasnya.

Rhenald pun menerangkan pengerjaan infrastruktur serta transportasi umum sebagai sarana penghubung ini bisa saja jadi menjadi bagian dari branding daerah maupun negara. Misalnya, yang dikerjakan oleh Singapura melalui Terminal Jewel di dalam dalam Bandara Changi Singapura.

“Bandingkan dengan Singapura, ada Terminal Jewel. Saya tanya orang sana, banyak yang digunakan marah ini terminal atau mal. Tapi itu diperlukan untuk membangun kepada dunia bahwa merek punya kemampuan menimbulkan sesuatu yang hal tersebut bagus, itu branding,” tutur Rhenald.

“Kalau kita melihat semata-mata dari ilmu dunia usaha keuangan, itu enggak balik modal. Padahal ada ilmu lain juga yang digunakan digunakan harus dipakai, harus ada branding juga dong,” sambungnya.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan kritik juga pernah datang saat Presiden RI, Joko Widodo, memulai proyek Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) dari Lampung hingga ujung Sumatera. Dilihat dari bidang ekonomi, ia mengatakan saat itu banyak yang digunakan digunakan menilai perkembangan JTTS belum waktunya.

“Tapi ketika melakukan pengerjaan dunia usaha itu bukan sekadar fungsional. Ada aspek lain, yaitu keadilan, pemerataan. Apakah saudara sebagai orang Lampung, Palembang, Bengkulu tiada merasa ‘kenapa semata-mata Pulau Jawa semua yang dimaksud digunakan dibangun?'” ucap Rhenald.

“Kalau dibangun di dalam dalam Jakarta saja, itu calon ada hambatan keadilan. Jadi keterhubungan itu penting. Bagaimana pelabuhan dibangun, kereta api dibangun, ini membanggakan melihat prestasi juga negeri ini lebih lanjut tinggi dihormati,” imbuhnya.

Sebagai informasi, Hub Talk Sesi 3 ini dimoderatori langsung oleh Menteri Perhubungan RI, Budi Karya Sumadi, kemudian Komedian, Cak Lontong. Selain diisi oleh paparan Owner Rumah Perubahan Rhenald Kasali, hadir pula Pj Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono, Direktur Utama PT KCIC Dwiyana Slamet Riyadi, juga CEO Pertamina International Shipping Yoki Firnandi.

Adapun kegiatan yang dimaksud berlangsung selama 3 hari, 29 September hingga 1 Oktober 2024 di tempat tempat JCC Senayan Jakarta ini dimeriahkan oleh Hub Expo, Hub Awards, Hub Music, Hub Tawa, serta Hub Travel x KAI Expo.

Sebagai informasi, Hub Space X KAI Expo 2024 dipersembahkan oleh Kementerian Perhubungan, PT Kereta Api Indonesia (KAI) kemudian detikcom. Acara ini didukung oleh Lion Air Group, PT KCIC, Gojek, MRT, Electrum, PT Pelabuhan Indonesia (Persero), Gapura Angkasa, GoTo, JIIPE KEK Gresik, Pertamina International Shipping, Bluebird Group, Angkasa Pura II, PT MOS (Multi Ocean Shipyard).

Didukung juga oleh Celebes Railway Indonesia (CRI), CRRC, Gapura Angkasa, PT Pelabuhan Tiga Bersaudara, Meratus Line, Angkasa Pura I, INSA, PT KAI, PT ASDP, Biro Klasifikasi Indonesia, Jasa Raharja, Pertamina Patra Niaga, PT ASDP, LRT, PT Pelayaran Bahtera Adhiguna, PT Kreta Indo Artha, PT Ambang Barito Nusapersada, Astra Group (ISUZU, BMW, Daihatsu), Wuling, Grab, DAMRI, INKA, PT EMB-INVI serta Toyota.

Share:

Tinggalkan komentar