Menteri  lalu UKM  mengatakan  lokal tetap sulit bersaing meskipun sudah berjualan secara online. Hal itu terjadi lantaran maraknya barang impor dalam marketplace.

Karenanya, Teten, mengajukan permohonan agar peniaga lokal tak disalahkan.

“Pasar seperti Tanah Abang, bahkan pasar becek yang tersebut yang disebut jualan sayur, jualan sembako, sudah online. Jadi jangan salahkan merek belum shifting (ke online). Mereka sudah shifting,” katanya dalam Gedung SMESCO, Kamis (5/10).

Teten mengatakan saat ini sudah ada 22 jt UMKM yang mana digunakan berjualan secara online. Namun, barang merekan tetap sulit bersaing dengan barang impor yang tersebut dimaksud harganya sangat murah.

Bahkan Teten menyebut barang impor itu sanggup semata semata masuk lewat jalur tidaklah resmi. Ia menyebut Menteri Keuangan Sri Mulyani menyampaikan ada data impor dari China yang tidaklah tercatat.

“Berarti ada yang tersebut digunakan lewat jalur ilegal. Ini yang dimaksud mana mau kita benahi,” katanya.

Banjirnya barang impor menjadi salah satu alasan pemerintah untuk membenahi perdagangan digital. Salah satunya dengan mengeluarkan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 31 Tahun 2024 tentang Perizinan Berusaha, Periklanan, Pembinaan lalu Pengawasan Pelaku Usaha dalam Perdagangan Melalui Sistem Elektronik.

Dalam aturan itu, social commerce seperti TikTok Shop dilarang berjualan kemudian bertransaksi.

Namun, Teten mengatakan UMKM tidak ada ada akan terganggu dengan aturan itu. sebab itu dia sanggup berjualan pada jaringan lainnya kemudian tetapi mampu melakukan penawaran di dalam area TikTok shop.

“Banyak channel lain, emangnya cuman TikTok belaka yang tersebut dimaksud jualan? Kan enggak. Toh pemasaran juga bisa jadi jadi dikerjakan di tempat area TikTok medsosnya, marketingnya, promosinya dapat dilakukan, cuman transaksinya tiada pada area multichannel,” imbuhnya.

Share:

Tinggalkan komentar